Rabu, 11 Oktober 2017

Tanpa judul

apa kabar di langit sana
sepertinya matahari enggan menampakkan senyumnya
hmm...biarlah hangatnya hujan membasuh wajahku

hei, siang! tidakkah km lihat dedaunan memerlukan hangat pelukan mentari
dedaunan telah sebagian mengering, sebagian lg digerogoti ulat

hei, ulat! tidakkah kamu lihat batang pohon mulai rapuh
akar2nyapun sdh mulai lemah menjamah tanah
#
hari ini kulalui tanpa arti, buih2 rindu dan usapan ombak yg senantiasa membelai pantai perlahan surut
##
Kuku2 tajamnya meninggalkan jejak nestapa, menggoreskan luka yg tak bisa terlupa, luka manis yg tersapu manis ampas kopiku
###
asap putih menggumpal menyeruak dari bibirku, bersama napas tersengal, hela napas yg dangkal

Ruang waktu

Percayalah
Tuhan tidak akan membiarkanmu
Selamanya berada dalam rasa yang sama
Pada seseorang yang bukan ditakdirkan untukmu

Senin, 09 Oktober 2017

Pergi,pulanglah

Bahwa apa yang ku putuskan untuk beranjak pergi darimu
Merupakan rencana Tuhan yang tak pernah salah
Sesuatu yang sangat meresahkan tanpa sebab kala itu
Adalah bahasa rinduNya yang tak pernah ku pahami
*
Bahwa yang kamu anggap semesta
Bukan aku yang berada saat bahagia saja
Tapi dia yang selalu menemanimu
Saat kau menjadi sehelai daun tak bertenaga
*
Tersenyum adalah usaha terbesarku
Dari menahan rasa sakit yang sudah aku rasakan
*
Yuk kita klik cancel
Setelah kita salah install perasaan
Sisa sisanya biar kita delete saja
*
Pulang lah sayang
Kembalilah
Harus apalagi yang aku katakan
Kembalilah ke yang menjadi hakmu

Kopi jalang

Meski tak secandu aroma tubuhmu
Setidaknya wangi aroma kopiku malam ini
Mampu meredakan dahaga rinduku atasmu
Yang tak mampu secara langsung aku cumbu
*
Kau adalah pahit kopiku
Yang kuseduh dengan hangat air mata
*
Dalam dekap seduhan kopi
Rindu menjelma pahit yang bisa di nikmati
*
Cangkir kusam bekas kopiku
Adalah liang lahat bagi jantung rasaku
Setiap pahit telah sirna aku teguk
Satu persatu detak rinduku telah mati
Dan telah jatuh menjadi ampas yang tak lagi kau ingini

Kopi

Di bibir yang cangkirmu
Aku ingin menyeduh sebutir rindu
Yang pahitnya lebih pahit dari kopimu
*
Pada secangkir kopi yang sedang mengepul
Ada rindu yang sedang mendinginkan diri
*
Di jamuan terakhir kita di temukan takdir
Serupa kopi dan gula dalam secangkir
Yang tanpa harus menunggu lama untuk menyepakati rasa
Karena rindu menyeduh kita secara tiba-tiba
*
Di bekas cangkir kopimu,meski yang tertinggal adalah ampasnya
Setidaknya aku bisa merebahkan seraut rindu
Agar bisa kunikmati dari sisa kecup dari bibirmu
*
Namanya juga ampas,sisa sisa dari kenikmatan yang menyeduhnya
Biarpun di kasih gula lagi dan lagi,tetap tidak akan manis
Rasanya tidak akan sama dengan kopi yang baru di seduh
Malah yang ada rasanya semakin aneh
*
Ada yang diam diam merindukanmu dalam sunyi ampas kopi
Aku; seseorang yang kau titipi candu
Sebelum kau putuskan berlalu
*
Ketika tatap tak dapat menjamahmu
Biar dengan pejam aku memangkas jarak sesampai sekat mengerucut
Lalu menjelmalah dalam pahit kopimu
Nikmatilah;itu aku
**
Tersenyumlah duhai tuanku
Biar rembulan dan gemintang cemburu
Dari pelangi yang berbinar indahnya diantara lesung pipiku

Hujan

Bukan hujan dari langit
Itu hujan yang rintiknya turun dari mata
Yang sedang menikmati rasa yang menyesakkan dada

Minggu, 08 Oktober 2017

Rasa

Perihal rasa yang ada
Kubiarkan saja tanpa membendungnya
Sampe akhirnya menjadi biasa saja
Dan sirna dengan sendirinya
Toh kita punya Tuhan yang maha memberi rasa dan pembulak balik hati manusia
Jika kita sudah berusaha,maka biarkan tangan Tuhan yang bekerja,menghadirkannya atau mencabutnya kapan saja

Terima kasih karena kita pernah sama-sama singgah
Meski tidak berada dalam satu ikatan
Meski berakhir dengan tidak saling menggenapkan
Meski sekedar singgah
Setidaknya kita telah sama-sama mengakui
Perihal rasa yang tumbuh dalam hati masing-masing
Meski dengan jalan yang berbeda
Inilah jalan akhirnya